Sunday, 2 June 2013

Hendra Aprida Gunawan PUTRA MAJALENGKA

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:Hendra_Aprida_Gunawan.jpg

Hendra Aprida Gunawan (lahir di Majalengka, , 6 April 1982; umur 31 tahun) adalah salah satu pemain bulu tangkis Ganda Putra Indonesia yang berpasangan dengan Alvent Yulianto Chandra.
Berkas:Hendra Aprida Gunawan.jpg

Prestasi

Ganda Putra 

  • 2006 : Juara kedua Big Boss Dutch Open 2006 (bersama Joko Riyadi)
  • 2007 : Perempat final Wilson Badminton Swiss Open 07 (bersama Joko Riyadi), Perempat final Aviva Open Singapore Super Series 2007 (bersama Joko Riyadi), Medali Perunggu Ganda Putra SEA Games 2007 (bersama Joko Riyadi), Perempat final China Masters SS 2007 (bersama Joko Riyadi)
  • 2008 : Semi final China Masters Super Series (bersama Joko Riyadi)
  • 2009 : Semi final Yonex Sunrise India Open 2009 (bersama Joko Riyadi), Juara Astec Ultra Milk Open Indonesia International Challenge 2009 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final Yonex Open Japan Super Series 2009 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final Chinese Taipei Grand Prix Gold 2009 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semifinal YONEX Sunrise Hong Kong Open Super Series 2009 (bersama Alvent Yulianto Chandra)
  • 2010 : Perempat final INDONESIA GRAND PRIX GOLD 2010 (bersama Flandy Limpele), Perempat final KOREA SUPER SERIES 2010 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final PROTON MALAYSIA OPEN SUPER SERIES 2010 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Anggota Tim Thomas 2010 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Runner - up Kumpoo Macau Open Badminton Championships (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final YONEX-SUNRISE Hong Kong Open Super Series 2010 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final DENMARK SUPER SERIES 2010 (bersama Alvent Yulianto Chandra)
  • 2011 : Semi final WILSON Swiss Open Grand Prix Gold 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final YONEX Australian Open Grand Prix Gold 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat fianl Badminton Asia Championships 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final 2011 Yonex – Sunrise India Open Superseries (bersama Alvent Yulianto Chandra), Runner - up YONEX-SUNRISE Malaysia Open Grand Prix Gold 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final Anggota Piala Sudirman 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Runner - up SCG Thailand Open Grand Prix Gold 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Runner - up Singapore Open 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final Yonex Chinese Taipei Open (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final YONEX Open Japan (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final Indonesia Open 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final Yonex Sunrise Hong Kong Open 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Semi final Kumpoo Macau Open 2011 (bersama Alvent Yulianto Chandra).
  • 2012 : Semi final Swiss Open 2012 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final 2012 Yonex Australian Open GP Gold (bersama Alvent Yulianto Chandra), Perempat final Badminton Asia Championships 2012 (bersama Alvent Yulianto Chandra), Runner - up Victor Indonesia International Challenge 2012 (bersama Yonathan Suryatama Dasuki), Perempat final YONEX Open Japan 2012 (bersama Yonathan Suryatama Dasuki), Semi final INDONESIA OPEN GRAND PRIX GOLD BADMINTON 2012 (bersama Yonathan Suryatama Dasuki)

Ganda Campuran 

  • 2010 : Perempat final ALL ENGLAND SUPER SERIES 2010 (bersama Vita Marissa), Semi fianl LI-NING SINGAPORE OPEN SUPER SERIES 2010 (bersama Vita Marissa), Runner - up Kumpoo Macau Open Badminton Championships (bersama Vita Marissa), Juara CHINESE TAIPEI GRAND PRIX GOLD 2010 (bersama Vita Marissa), Perempat fianl JAPAN SUPER SERIES 2010 (bersama Vita Marissa), Perempat final INDONESIA GRAND PRIX GOLD 2010 (bersama Vita Marissa), Semi final DENMARK SUPER SERIES 2010 (bersama Vita Marissa), Perempat final FRENCH_SUPER_SERIES_2010 (bersama Vita Marissa)

Emen Suwarman TOKOH MAJALENGKA PAHLAWAN INDONESIA

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Emen_Suwarman

Emen Suwarman (lahir di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Indonesia, 18 Mei 1939; umur 74 tahun) adalah salah seorang mantan pemain sepak bola yang pernah bermain bersama Persib Bandung. Ia membawa Indonesia berprestasi pada tingkat Asia. Bersama Wowo Sunaryo, ia berhasil membawa Indonesia meraih medali perunggu]] pada Asian Games 1962 dan menjuarai Merdeka Games di Malaysia yang diikuti 18 negara.

 

Kehidupan keluarga

Emen Lahir dari Keluarga sederhana. Namun, bakat Sepak bolanya sudah tertanam dalam diri Suami dari Sri Wulan ini. Dalam kesehariannya semasa kecil, Emen tidak pernah lepas dari bermain Sepak bola. Apalagi, rumah dia di Cideres dekat lapangan Sepak bola. Karena terus menggeluti Sepak bola, dia menjadi lupa belajar. Akibatnya, dia tidak lulus Sekolah ketika duduk di bangku SMP. Tapi, dia tidak Sakit hati, bahkan terus bermain Sepak bola. Di antara teman seusianya, kemampuan Teknik individunya yang terbaik di daerah Majalengka

Awal Karier

Malang melintang bermain sepak bola di daerah Majalengka, membuat nama dia cukup terkenal. Padahal saat itu, usianya baru 16 tahun (1955). Pada usia ini juga dia diterima menjadi PNS di RS Pembantu Jati Tujuh Majalengka. Meski sudah diangkat menjadi PNS, dia tidak pernah absen seminggu tiga kali melakukan lari sejauh 5 km dari Cideres ke Barujul Pabrik Kentang PP atau ke daerah Balida Pabrik Bata. Menjadi PNS dia dibayar Rp 75 per bulan karena pendidikan dia lulusan Sekolah Rakyat (sekarang SD-red).
Emen tiga tahun memperkuat Persima Majalengka. Selama itu, dia sering memperkuat tim Korem Cirebon atau Batalyon 306 Kompi V. Karena ingin melanjutkan karier sepak bola, dia terpaksa keluar dari pekerjaannya dan berhenti menjadi PNS. Ia hanya mengenyam status PNS selama tiga tahun.

Karier sebagai pemain

SALAH satu rahasia sukses Emen Suwarman menjadi pemain sepak bola adalah memiliki fisik kuat. Dia juga berani bermain keras. Hal itu ditunjang pula dengan kemampuan teknik individunya yang cukup tinggi. Dengan begitu, dia sudah memiliki persyaratan lengkap menjadi pemain sepak bola yang layak memperkuat tim nasional. Emen menceritakan pengalaman membentuk fisik kuat. Ia selalu rutin lari jauh pada siang hari. Tapi, agar badan tetap kuat, dia selalu makan telur kampung mentah sebelum lari.
“Malam hari sebelum latihan, saya ambil telor dari kandang ayam milik tetangga. Saya tidak punya uang jika harus membeli. Tapi, setelah saya punya uang dari main sepak bola, langsung bayar ke tetangga. Biasanya, tetangga kaget duluan ketika tiba-tiba saya kasih duit. Jadi istilahnya, ambil telor duluan, bayar belakangan,” ujarnya.
Menurut dia, jika tidak dibantu dengan makanan yang mengandung protein tinggi, dirinya bisa jatuh sakit karena latihannya cukup keras.
Penampilan Emen dalam pelbagai turnamen sepak bola di Majalengka membuat dia dipanggil memperkuat Korem Cirebon untuk kejuaraan sepak bola antar-Korem se-Jawa Barat di Stadion Siliwangi Bandung pada 1958. Saat itu, Komandan Korem Cirebon dijabat Letkol Aye Witono Leteu. Korem Cirebon juara ketiga, sedangkan Korem Bandung yang diperkuat antara lain Wowo Sunaryo, Sunarto, dan Pietje Timisela, tampil sebagai juara.
Sosok Emen pada kejuaraan itu, ternyata membuat Pangdam VI/Siliwangi, Kolonel Ibrahim Adjie, terpikat. Ia memerintahkan Kapomdam, Letkol Adela dan Intendans, Mayor Encon Muklisin, untuk memindahkan Emen ke Bandung memperkuat PSAD. Pada tahun 1959, Emen memperkuat Kodam Siliwangi mengikuti kejuaraan antar-Kodam di Bandung, bersama Wowo, Omo Suratmo, Sunarto, Yus Etek, dll. Kodam Siliwangi juara tiga kali berturut-turut yaitu pada 1958, 1959, dan 1960. Emen resmi pindah ke PSAD pada tahun 1960.
Nama Emen mulai dikenal luas di Bandung, sehingga dia juga dipanggil memperkuat tim Jabar pada PON V/1960 di Bandung. Bersama Ade Dana, Ishak Udin, Fatah Hidayat, Wardaya, Rukman, Sunaryono, Komar, tim Jabar meraih perak, setelah kalah WO dari Jateng karena menolak pertandingan ulang.
“Harusnya Jabar meraih emas. Pada final, Jabar menang 1-0 melalui gol Komar. Jateng protes langsung ke Menteri Olah Raga, Maladi. Protes Jateng diterima, sehingga harus diadakan pertandingan ulang. Tapi, Jabar menolak sehingga dinyatakan kalah WO,” ujar Emen mengenang.

 

Karier di timnas

KASUS suap pengaturan skor yang menguncang sepak bola Indonesia pada 1961, ikut memuluskan karier sepak bola Emen Suwarman. Kasus suap ini muncul saat Indonesia uji coba melawan Yugoslavia di Lapangan Ikada Monas pada 1961. Indonesia kalah 0-1. Padahal, Indonesia sebenarnya bisa melibas Yugoslavia. Pelatih Indonesia, Tony Pogacnic tidak percaya penampilan para pemain bintang Indonesia saat itu.
Pemain bintang Indonesia saat itu, sebenarnya dipersiapkan tampil pada Asian Games IV 1962 Jakarta. Akibat kasus itu, sejumlah pemain mendapat sanksi tidak boleh terlibat dalam sepak bola nasional.
Pogacnic resah dengan kondisi ini karena dia kehilangan beberapa pemain pilar. Untuk mencari pemain pengganti, PSSI menggelar invitasi sepak bola di Senayan, yang diikuti lima klub, yakni Persib, Persija, Persebaya, PSMS, dan PSM. Pada 1961, Emen sudah memperkuat Persib dan beberapa kali melakukan pertandingan uji coba ke daerah lain di luar Pulau Jawa.
Persib tampil sebagai juara tanpa terkalahkan. Persib mengalahkan Persija 2-0, Persebaya 2-0, PSMS 3-0, dan PSM 1-0. Penampilan Emen ternyata memikat Pogacnic.
Emen dipanggil bersama 11 pemain dari klub lain dipersiapkan untuk memperkuat Indonesia pada Asian Games 1962. Di Asian Games, Indonesia mendapat medali perunggu setelah pada semifinal dikalahkan Malaysia 2-3.
Tiga bulan kemudian, Emen memperkuat Indonesia di ajang Merdeka Games Malaysia yang diikuti 18 negara. Indonesia meraih juara dengan mengalahkan Pakistan 2-1 di final, pada 22 Agustus. Sebelumnya, Indonesia melibas Jepang 6-0 dan Korea 2-0.
“Saat itu saya merasa gembira sekali karena baru kali pertama ke luar negeri, bisa membawa Indonesia meraih juara. Karenanya, saya tidak pernah lupa tanggal dan tempat pelaksanaan penyelenggaraan karena itu merupakan sejarah bagi saya,” ujar Emen.
Nama Emen di kejuaraan itu langsung melejit karena dia tampil dengan permainan keras dan didukung dengan kemampuan teknik tinggi. “Saya tidak mencetak gol, tapi proses gol-gol Indonesia sering dari umpan-umpan matang saya,” kata Emen.
Setahun kemudian, Emen tampil bersama Wowo Sunaryo, pada ajang multievent internasional Games of The New Emerging Force s(Ganefo) di Senayan Jakarta. Pada event itu, Indonesia mengalahkan Jepang 6-0, Thailand 6-0. Langkah Wowo dkk. terhenti setelah dikalahkan Cile 0-1.
SETELAH tampil pada ajang multievent internasional Games of The New Emerging Forces (Ganefo) di Senayan Jakarta 1963, Emen mulai keliling Asia memperkuat tim Indonesia.
Namun rangkaian pertandingan yang dimainkan adalah uji coba. Indonesia melawat ke Jepang, Korea Utara, Korea Selatan, Hong Kong, Cina, Pakistan, dll. Tim Indonesia saat itu, menjadi salah satu kekuatan Asia. Karena itu, meski bertindak sebagai tim tamu, Indonesia bisa mengalahkan lawan-lawannya. Misalnya di Tokyo, Indonesia melibas Jepang 6-0.
Tahun 1964, Emen pensiun dari status sebagai pemain nasional, pada usia 25 tahun. Namun, dia masih tetap menggeluti sepak bola memperkuat Persib. Oyong Liza, pemain nasional generasi setelah Emen, mengenal betul sosok Emen. Menurut dia, Emen ibaratnya singa liar ketika di dalam lapangan. Ia tidak takut bermain keras dan memiliki fisik kuat. Selain itu, tendangan kaki kanannya sangat keras. “Permainan Emen tanpa kompromi,” ujar Oyong ketika ditanya sosok Emen, saat bertemu “PR”, Juli lalu, di Padang Sumatra Barat.
Menurut dia, Emen merupakan pemain gelandang dengan kemampuan teknik individu tinggi. Umpan-umpan dari dia sangat akurat. Karena itu, dia termasuk salah satu pemain yang ikut mengharumkan nama bangsa Indonesia di tingkat Asia.
Bersama Persib, Emen ikut dalam beberapa kali pertandingan uji coba internasional di Stadion Siliwangi Bandung, melawan Jerman Timur, Yugoslavia, Cekoslowakia, Prancis, Hongaria, Bulgaria, selama 1964-1968. Dalam ingatan dia, Persib kalah 0-1 dari Bulgaria, Prancis, dan Cekoslowakia. Kemudian imbang tanpa gol melawan Hongaria. Tapi, pada 1966, Persib menang 1-0 atas Jerman Timur, melalui gol yang dicetak striker asal Sumedang, Otong.
Persib saat itu diperkuat Komar, Wowo Sunaryo, Djadjang Haris, Rukman, Soenaryono, Fatah Hidayat, Sunarto, Ilyas Dade, Ishak Udin, dll. ” Dulu tim-tim dari luar negeri itu melakukan rangkaian uji coba ke Medan, Jakarta, Surabaya, Semarang, atau Makassar. Dibandingkan dengan tim-tim Perserikatan lain, skor kekalahan Persib ini paling kecil. Kalau mereka kalahnya dengan skor lebih dari 2-0,” ujar Emen mengenang.

 

Karier di klub

RASA penasaran yang masih mengganjal dalam benak Emen Suwarman adalah belum pernah membawa Persib meraih juara Kompetisi Perserikatan. Selama 13 tahun memperkuat Persib, dari 1960 hingga 1973, Persib lebih sering menjadi runner-up. Padahal, Persib saat itu diperkuat 13 pemain yang membela tim Indonesia.
Mereka adalah Emen Suwarman, Komar, Djadjang Haris, Rukman, Soenaryono, Ishak Udin, Fattah Hidayat, Sunarto, Suhendar, Hengky Timisela, Omo Suratmo, Wowo Sunaryo, dan kiper Yus Etek. “Di babak penyisihan, Persib selalu menang besar atas lawan-lawannya. Tapi, di final kalah terus. Persib paling sering kalah oleh PSM Makassar,” ujar Emen.
Dalam ingatan dia, sejak meraih juara Kompetisi Perserikatan 1960/1961 dengan mengalahkan PSIS 2-0 di Semarang, Persib lebih sering menjadi runner-up. Namun, pada kompetisi 1960/1961, Emen belum masuk tim inti Persib. “Saat itu, Persib memiliki banyak pemain, sehingga dibentuk tiga tim yaitu Persib Garuda, Harimau, dan Banteng. Saya masuk Persib Banteng,” ujar Emen.
Menurut dia, Persib lebih sering juara pada tingkat turnamen. Padahal, klub-klub yang ikut serta adalah yang berlaga di Kompetisi Perserikatan. Persib juara �Piala Siliwangi di Bandung, Piala Brawijaya di Surabaya pada 1968, dll.
Setelah pensiun dari Persib, Emen memperkuat PSAD hingga 1980 pada kompetisi Divisi Persib. Kemudian, Emen mendapat kepercayaan menjadi pelatih dan beberapa kali membawa PSAD meraih juara kompetisi Divisi Utama Persib. Salah satu pemain yang dibina antara lain kiper Sobur dan Samsudin. Emen menjadi pelatih PSAD hingga 1995. Pada tahun ini, Emen juga pensiun dari PNS di Kodam III/Siliwangi dengan golongan terakhir II-D.
Sebutan Guru Emen bermula saat menjadi pelatih sepak bola tim SMPN 17 Bandung pada 1975. Ia melatih tim tersebut 7 tahun. Selama menjadi pelatih, Emen mendapat honor, pakaian, dan beras. Apa yang diterimanya, sama seperti guru-guru lain. Padahal, status dia hanya sebagai pelatih. “Saat itu, murid-murid memanggil saya guru, dan sampai sekarang hampir semua yang mengenal memanggil saya, Guru Emen,” ujar Emen.

 

Setelah Pensiun

Setelah pensiun dari Persib, Emen memperkuat PSAD hingga 1980 pada kompetisi Divisi Persib. Kemudian, Emen mendapat kepercayaan menjadi pelatih dan beberapa kali membawa PSAD meraih juara kompetisi Divisi Utama Persib. Salah satu pemain yang dibina antara lain kiper Sobur dan Samsudin. Emen menjadi pelatih PSAD hingga 1995. Pada tahun ini, Emen juga pensiun dari PNS di Kodam III/Siliwangi dengan golongan terakhir II-D.
Sebutan Guru Emen bermula saat menjadi pelatih sepak bola tim SMPN 17 Bandung pada 1975. Ia melatih tim tersebut 7 tahun. Selama menjadi pelatih, Emen mendapat honor, pakaian, dan beras. Apa yang diterimanya, sama seperti guru-guru lain. Padahal, status dia hanya sebagai pelatih. “Saat itu, murid-murid memanggil saya guru, dan sampai sekarang hampir semua yang mengenal memanggil saya, Guru Emen,” ujar Emen.

Menikmati masa tua di Persib

PENGALAMAN matang meniti karier di sepak bola, membuat Emen Suwarman mendapat kepercayaan menjadi asisten pelatih Persib bersama Djajang Nurdjaman pada Kompetisi Perserikatan 1993/1994 dan Liga Indonesia I 1994/1995.
Pelatih kepala Persib saat itu, Indra Thohir. Pada dua event itu, Persib meraih juara. Posisi Emen terus bertahan sampai Persib tampil pada Liga Champions Asia. Ia sempat ikut ke Thailand dan Filipina.
Pada 12 tahun lalu, fisik Emen masih segar bugar, sehingga dia bisa konsentrasi penuh menjalankan tugas sebagai asisten pelatih. Apalagi, Emen memiliki segudang pengalaman, sehingga kinerja dia bersama Djadjang sangat membantu Thohir.
Menurut dia, sukses Persib di Liga Indonesia karena memiliki pemain yang sudah kompak. Mereka sudah terbina cukup lama semasa Kompetisi Perserikatan, sehingga jiwa pemain sudah bersatu. “Saat itu, Persib sulit untuk dikalahkan. Tim itu kuat dan hampir sama ketika saya masih aktif bermain sepak bola dulu,” ujarnya.
Setelah sukses itu, Emen berhenti dan kembali membantu PSAD. Namun, pada Kompetisi Liga Indonesia VII 2001, Emen masuk kembali dalam jajaran ofisial Persib. Jabatannya menjadi masseur. Ia bertahan hingga kompetisi 2003. Setahun kemudian, posisi dia diganti orang lain.
Pada kompetisi 2005, dia masuk kembali dengan posisi tetap sebagai masseur, dan dipertahankan hingga kompetisi 2007. Sebenarnya, nilai penghargaan prestasi dia dulu dengan jabatan saat ini sebagai masseur, tak sebanding. Namun, hal ini tidak membuat Emen merasa rendah diri.
“Seorang masseur merupakan bagian terpenting dalam klub. Saya sudah merasakan ketika masih aktif menjadi pemain karena sering dipijat masseur tim. Jika pemain ada yang cedera otot atau pegal-pegal, menjadi tugas masseur untuk menyembuhkannya. Saya menikmati pekerjaan ini,” ujarnya.
Dengan jabatan sebagai masseur, Emen mengaku lebih dekat dengan pemain Persib karena tiap hari selalu berinteraksi.
Hal ini dimanfaatkan dia untuk memberikan saran, dan sekaligus transfer ilmu sepak bola yang dimilikinya sejak masih aktif bermain sepak bola.
“Kalau lagi bertugas (memijat), saya selalu mengingatkan pemain harus begini atau begitu. Semua ini untuk kemajuan pemain juga,” ujarnya.
Menurut dia, ilmu memijat yang dimilikinya tidak datang begitu saja. Dia belajar cukup lama dari seseorang yang cukup pintar memijat. “Saya harus tirakat untuk menyelesaikan ilmu memijat ini,” ujar pria berusia 68 tahun ini.
Dari pernikahan dengan Sri Wulan, Emen dikaruniai 9 anak, yakni Feri Indrayuwono, Yulianti, Dedi Grisnadi, Indrayanti, Herindro Tresno, Rini Silvia Dewi, Irmayanti, Yadi, dan Ike. Emen juga sudah memiliki delapan Cucu.
Kepiawaian Emen dalam memainkan bola sempat diperlihatkan kepada pelatih Persib, Arcan Iurie Anatolievici. Saat itu, Persib tengah melakukan latihan di hotel di Cilegon Banten, dalam persiapan menghadapi tuan rumah Persitara pada kompetisi 2006. Bola yang ditendang jauh oleh salah seorang pemain, langsung dikontrol Emen dengan bagian dalam kaki kanan.
Bola langsung berhenti di kaki. Hal ini membuat Iurie memberikan aplus tepuk tangan dan melakukan push up sebagai tanda penghormatan kepada dia. Saat Persib latihan, terkadang Emen ikut memainkan bola di pinggir lapangan. “Kalau gaya menendang masih ada. Tapi, diajak main sudah tidak kuat,” ujarnya.

Klub

Prestasi

  • Mendali Perunggu Asian games 1962
  • Juara Merdeka Game

Saturday, 1 June 2013

10 FAKULTAS HUKUM TERBAIK DI INDONESIA 2013

1. Fakultas Hukum Universitas Indonesia


Sekolah hukum yang pertama di Indonesia didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1909 dengan nama Rechtsschool. Sekolah ini ditempatkan di Batavia, sebagai realisasi permintaan P.A. Achmad Djajadiningrat, Bupati Serang, untuk keperluan mengisi tenaga-tenaga hukum di pengadilan kabupaten. Sekolah ini pada mulanya terdiri dari Bagian Persiapan dan Bagian Keahlian Hukum. Sekolah Hukum ini kemudian ditingkatkan menjadi suatu lembaga pendidikan tinggi dengan nama Rechtshogeschool atau Faculteit der Rechtsgeleerdheid, yang dibuka pada tanggal 28 Oktober 1924 oleh Gubernur Jendral D.(diambil dari: ui.ac.id).
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Indonesia :
  1. Hassan Wirajuda, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Tahun 1971
  2. Yusril Ihza Mahendra, Pendirikan S-1 jurusanHukum Tata Negara Fakultas Hukum UI Tahun 1983 dan jurusan Filsafat Fakultas Sastra UI (1982).
  3. Jimly Asshiddiqie, sarjana hukum dari Universitas Indonesia pada 1982, kemudian menyelesaikan jenjang pendidikan S2-nya di perguruan tinggi yang sama pada 1987
  4. Taufik Basari, S-1 Hukum Fakultas Hukum Universitas Indonesia Tahun 2000
  5. Maria Farida Indrati, program sarjana hukum pada tahun1975
  6. Harry Tjan Silalahi, Fakultas Hukum UI,Tahun 1962
  7. Dan masih banyak lagi…..
website :
law.ui.ac.id


2. Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

Tanggal3 Desember  1949 dibuka Fakultas Hukum di Yogyakarta dengan pimpinan Prof. Drs. Notonagoro, S.H.. Fakultas ini merupakan pindahan Sekolah Tinggi Hukum Negeri Solo. Akhirnya tanggal 19 Desember 1949, lahirlah Universitas Gadjah Mada dengan enam fakultas. Menurut Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 1949, keenam fakultas tersebut adalah:
  1. Fakultas Teknik (di dalamnya termasuk Akademi Ilmu Ukur dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Ilmu Alam dan Ilmu Pasti);
  2. Fakultas Kedokteran, yang di dalamnya termasuk bagian Farmasi, bagian Kedokteran Gigi dan Akademi Pendidikan Guru bagian Kimia dan limu Hayat;
  3. Fakultas Pertanian di dalamya ada Akademi Pertanian dan Kehutanan;
  4. Fakultas Kedokteran Hewan;
  5. Fakultas Hukum, yang di dalamnya termasuk Akademi Keahlian Hukum, Keahlian Ekonomi dan Notariat, Akademi Ilmu Politik dan Akademi Pendidikan Guru Bagian Tatanegara, Ekonomi dan Sosiologi;
  6. Fakultas Sastra dan Filsafat, yang di dalamnya termasuk Akademi Pendidikan Guru bagian Sastra.
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada :
  1. Hamengkubuwana X,  Lulusan Fakultas Hukum UGM
  2. Denny Indrayana Menyelesaikan studi sarjana hukumnya di UGM
  3. Dan masih banyak lagi….
Website :
law.ugm.ac.id

3. Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran


Fakultas Hukum UNPAD yang semula bernama Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat ( FHPM ), didirikan secara resmi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 37 Tahun 1957 tentang Pendirian UNPAD, tanggal 24 September 1957. Fakultas Hukum UNPAD merupakan salah satu dari empat fakultas yang menjadi cikal bakal UNPAD, sekaligus menjadi dasar identitas UNPAD dalam berkiprah di dunia pendidikan. Hal ini diwujudkan dalam penetapan Pola Ilmiah Pokok (PIP) UNPAD yang bertema “Bina Mulia Hukum dan Lingkungan Hidup dalam Pembangunan Nasional”. Pada perkembangannya, PIP tersebut diaktualisasikan dalam pengembangan bidang Hukum Internasional yang menjadi rujukan bagi pendidikan hukum di seluruh Fakultas Hukum di Indonesia. Pembentukan Laboratorium Klinis Hukum juga menjadi salah satu ciri khas Fakultas Hukum UNPAD.( sumber fh.unpad.ac.id )
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Universitas Padjadjaran :
  1. Mochtar Kusumaatmadja, S3 Universitas Padjadjaran, Bandung (1962)
  2. Muladi, Ilmu Hukum Program Pascasarjana FH (S3) Universitas Padjadjaran, (1984) dengan predikat Cumlaude
  3. Dan masih banyak lagi…
Website :
fh.unpad.ac.id


4. FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA


Tidak lama setelah kemerdekaan Republik Indonesia (1945), beberapa tokoh nasional yang juga adalah pemuka-pemuka Kristen Indonesia tergerak dan merasa perlu untuk mendirikan Dewan Gereja di Indonesia (DGI). Harapan tersebut baru terlaksana pada tanggal 25 Mei 1950. Di awal kegiatannya, lembaga ini juga telah memberikan perhatian yang cukup besar pada masalah pendidikan, karena ketika itu bangsa Indonesia sangat memerlukan sumber daya manusia untuk mengisi lapangan kerja dalam berbagai aspek kehidupan. Dan kebutuhan ini bersifat mendesak.
Pemikiran akan inginnya masyarakat Kristen Indonesia untuk turut berpartisipasi dalam dunia pendidikan, terus berkembang dalam diskusi-diskusi yang terjadi di lembaga ini. Bahkan dipikirkan pula akan perlunya mendirikan sebuah “universiteit”. Atas dasar itulah maka DGI membentuk suatu komisi yang dipimpin oleh Prof. Dr. I.P. Simandjuntak MA. Komisi ini bertugas membuat suatu studi kelayakan untuk mendirikan universitas. Hasilnya dilaporkan kepada DGI. Sebagai tindak lanjutnya, DGI mengeluarkan resolusi mengenai Universiteit Kristen pada tanggal 30 Juni 1953. Resolusi, yang ditandatangani oleh Ds. W.J. Rumambi selaku Sekretaris Umum DGI dalam Sidang lengkap DGI dari tanggal 20 s/d 30 Juni 1953, mengusulkan kepada semua gereja dan masyarakat Kristen di Indonesia untuk membantu sepenuhnya pendirian Universiteit Kristen, baik secara moril maupun materiel.
Beranjak dari resolusi tersebut, maka tokoh-tokoh Kristen Indonesia, yakni Mr. Todung Sutan Gunung Mulia, Mr. Yap Thiam Hien, Benjamin Thomas Philip Sigar, atas nama gereja-gereja yang tergabung dalam DGI, mendirikan Yayasan Universitas Kristen Indonesia dihadapan notaris Raden Kadiman, dengan nomor akte 117, tertanggal 18 Juli 1953. Anggota Yayasan kemudian diperbesar dengan kehadiran Elviannus Katoppo, Ong Jan Hong MD, Aminudin Pohan MD, Seri Condar Nainggolan MD, Benjamin Prawirohadmodjo, Pdt. Komarlin Tjakraatmadja, Gerrit Siwabessy MD, Tan Tek Heng, dan J.C. Simorangkir. Tiga bulan kemudian, yaitu pada tanggal 15 Oktober 1953, diresmikanlah Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang terdiri dari (a) Fakultas Sastra dan Filsafat dengan sub-sub fakultasnya adalah Pedagogik dan Sastra, dan (b) Fakultas Ekonomi. Ketika itu, perkuliahan dan kegiatan administrasi masih berlangsung di gedung HSK, yang terletak di Jalan Diponegoro 86, dan di 3 buah flat di Jalan Salemba 10. Di dalam perjalanan pengabdiannya, didirikanlah Fakultas Hukum (1956), Fakultas Kedokteran (1962), Fakultas Teknik (1963), dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (1994).
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia :
  1. Agustin Teras Narang, S1 Fakultas Hukum UKI Jakarta (1973-1979)
  2. Johnson Panjaitan, Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
  3. Japto Soerjosoemarno, Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia, Jakarta
  4. Dan masih banyak lagi…
Website :
fh.uki.ac.id


5. Fakultas Hukum Universitas Katolik Atma Jaya


Fakultas Hukum didirikan pada tanggal 3 Juli 1965 dengan jumlah mahasiswa yang diterima sebanyak 141 orang. Kuliah dimulai pada awal September 1965 menggunakan gedung SMP St. Theresia, Jakarta Pusat.
Baru satu bulan kuliah berlangsung, meletuslah peristiwa G-30-S, yang kemudian berlanjut dengan aksi mahasiswa, sehingga praktis kuliah secara teratur baru berjalan kembali pada 1 Februari 1967.
Perkuliahan di Kampus Semanggi dimulai sejak awal Maret 1971. Setelah beberapa kali berpindah ruangan sekretariat, saat ini sekreatariat Fakultas Hukum dipusatkan di Gedung C, Lantai 3, Kampus Semanggi. Sementara, perkuliahan mahasiswa dipusatkan di Gedung Yustinus dan BKS.
Fakultas Hukum yang berusia hampir 40 tahun telah mengalami perkembangan yang cukup pesat saat ini. Dari jumlah mahasiswa pertamanya yang hanya 141 orang, di tahun 2004 ini, jumlah mahasiswa Fakultas Hukum berjumlah kurang lebih 1,500 mahasiswa. Jumlah dosen tetap dan honorer kurang lebih 30 orang dan 60 orang. Fakultas ini mengelola 4 (empat) Program Kekhususan: Hukum Ekonomi Bisnis, Hukum Keperdataan, Hukum Kepidanaan, dan Hukum Internasional/Tata Negara. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh majalah Tempo pada bulan Oktober 2003, Fakultas Hukum Unika Atma Jaya menduduki peringkat ke-3 sebagai tempat favorit untuk studi hukum di Jakarta. ( sumber http://www.atmajaya.ac.id )
Website :
www.atmajaya.ac.id


6. Fakultas Hukum Universitas Trisakti


Fakultas Hukum Universitas Trisakti (FH USAKTI) merupakan salah satu Fakultas di lingkup Universitas Trisakti yang lahir bersamaan dengan didirikannya Universitas Trisakti oleh dr. Syarif Thajeb selaku Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Republik Indonesia pada tanggal 29 Nopember 1965.
Pada awalnya Fakultas Hukum bernama Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Universitas Trisakti, dan kemudian berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 0333/O/1985 tanggal 27 Juli 1985 tentang  Penyesuaian Jalur, Jenjang dan Program Pendidikan serta Penataan Kembali Mutu Unit Jurusan/ Program Studi Status Disamakan pada PTS dalam Lingkungan Koordinasi PTS Wilayah III telah diubah namanya menjadi Fakultas Hukum Universitas Trisakti.
Fakultas Hukum Universitas Trisakti memperoleh status akademik “Disamakan” berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor: 090/U/1972 tanggal 8 Juni 1972, tentang Pemberian Penghargaan Sama Dengan Ijasah PTN yang Setara Kepada Ijasah Sarjana Muda Lengkap, Fakultas Ekonomi Jurusan Ekonomi Perusahaan dan Akutansi pada Ijasah Sarjana Muda Lengkap dan Sarjana Lengkap Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat Jurusan Hukum Perdata, Hukum Pidana dan Hukum Internasional dan Fakultas Teknik Jurusan Mesin dan Elektro Universitas Trisakti di Jakarta, tanpa persyaratan bahwa ujian/ujian-ujian yang bersangkutan diselenggarakan dengan pedoman pengawasan aktif Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Surat Keputusan tersebut diperbaharui dengan Surat Keputusan Menteri Nomor: 0296/U/1981 dan Surat Keputusan Nomor: 0333/O/1985 tentang Penyesuaian Jalur, Jenjang dan Program Pendidikan serta Penataan Kembali Mutu Unit Jurusan/ Program Studi Status disamakan pada PTS dalam Lingkungan Koordinasi PTS Wilayah III, serta terakhir Surat Keputusan Nomor: 558/Dikti/Kep/1993 tanggal 11 September 1993 tentang Penetapan Kembali Status Disamakan kepada Jurusan/Program Studi untuk Jenjang Program D3 dan S1 pada PTS di lingkungan Kopertis Wilayah III di Jakarta. ( sumber http://www.trisakti.ac.id )
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Trisakti :
  1. Adhyaksa Dault, ,Fakultas Hukum, tahun 1984 s.d 1989
  2. Marissa Sarjana, Fakultas  Hukum Universitas Trisaksi Jakarta, jurusan Hukum Perdata
  3. Wanda Hamidah, S-1 Fakultas Hukum Universitas Trisakti Tahun 2000
  4. Usman Hamid, SI Fakultas Hukum Universitas Trisakti Tahun1999
  5. Yulianis, Fakultas Hukum Universitas Trisakti Tahun  1987
  6. Dan masih banyak lagi…
Website :
www.trisakti.ac.id


7. Fakultas Hukum Universitas Diponegoro


Fakultas Hukum Universitas Diponegoro merupakan Fakultas tertua di lingkungan Universitas Diponegoro. Sejak berdiri pada tahun 1957 hingga saat ini, Fakultas Hukum telah mengalami perkembangan dengan semakin membaiknya sistem pendidikan, bertambahnya jumlah dan kualitas staf pengajar (dosen), serta bertambah lengkapnya sarana dan prasarana penunjang pendidikan. Pengelolaan Fakultas Hukum yang semakin membaik ini diarahkan untuk peningkatan kualitas lulusan. Dilihat dari output yang dihasilkan, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro telah banyak memberikan kontribusi bagi pengembangan kehidupan bangsa dalam pembangunan. Lulusan yang dihasilkan telah tersebar di seluruh Indonesia dengan menduduki jabatan-jabatan di lingkungan birokrasi, swasta maupun masyarakat. Kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terlihat dari penelitian-penelitian yang dilakukan, penerbitan buku-buku ilmu hukum yang menjadi standar dalam pengembangan ilmu hukum di tingkat nasional, serta berbagai karya tulis di bidang hukum yang diterbitkan secara berkala melalui majalah dan jurnal ilmiah maupun melalui media massa. ( sumber fh.undip.ac.id )
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Diponegoro :
  1. Muladi, Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (S1) (1968)
  2. Dan masih banyak lagi…
website :
www.fh.undip.ac.id


8. Fakultas Hukum Universitas Airlangga


Sejarah Universitas Airlangga dimulai dari cikal bakal lembaga pendidikan Nederlands Indische Artsen School (NIAS) pada tahun 1913 dan Scholl tot Opleiding van Indische Tandartsen (STOVIT) pada tahun 1928. Fakultas Hukum sebagai salah satu fakultas tertua di Universitas Airlangga pada awal pembentukannya merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Surabaya sebagai cabang dari Fakultas Hukum, Ekonomi, dan Sosial Politik (HESP)Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Presiden Republik Indonesia secara resmi membuka Universitas Airlangga berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 57/1954 pada tanggal 10 Nopember 1954. ( sumber http://www.fh.unair.ac.id )
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Airlangga :
  1. Prof. Dr. J.E. Sahetapy, Fakultas Hukum Jurusan Kepidanaan Unair, Surabaya Doktor Ilmu Hukum Unair, Surabaya, 1978
  2. Triono Wibowo, Alumni Fakultas Hukum Unair
  3. Dan masih banyak lagi…
Website :
www.fh.unair.ac.id


9. Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan


Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan didirikan pada tanggal 25 Juli tahun 1996, yang diprakarsai oleh Dr. (HC) Mochtar Riady. Program Strata Satu diawali dengan satu peminatan, yaitu Hukum Bisnis dan kemudian pada tahun 2003 ditambah 2 peminatan, yaitu peminatan pada Hukum Internasional dan Kemahiran Praktik Hukum. Kegiatan perkuliahan pada program Strata Satu berlangsung di Global Campus UPH Lippo Karawaci Tangerang dan dilaksanakan dalam dua pilihan bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Melalui keputusan BAN PT Depdiknas No. 06/BAN-PT/Ak-X/S1/VIII/2007 tanggal 3 Agustus 2007, Program Ilmu Hukum (Fakultas Hukum) UPH diakreditasi dengan Peringkat “A” (Sebagaimana Peringkat A sebelumnya pada tahun 2002 – 2007). Peringkat ”A” ini diperoleh saat Ban PT telah melakukan perubahan-perubahan dalam manajemen ”asesmen lapangan”. Selain akreditasi, Fakultas Hukum juga merupakan salah satu Fakultas yang turut mengambil bagian dalam sertifikasi ISO 9001:2000 Universitas Pelita Harapan pada 23 April 2008.
Fakultas Hukum UPH aktif menjadi bagian dari beberapa kompetisi mootcourt (peradilan semu), baik nasional maupun internasional, seperti Lomba Debat Hukum Nasional Universitas Padjadjaran, Bandung; Kompetisi Mootcourt Nasional Djoko Soetono, Yogyakarta; Phillip C. Jessup International Law Mootcourt, Washington – USA; Stetson International Environmental Mootcourt Competition, Florida – USA; Elsa Mootcourt Competition, Taipei – Taiwan; dll. ( sumber law.uph.ac.id )
Alumni  Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan :
  1. Jamin Ginting, S2 dan S3 Fakultas HukumUniversitas Pelita Harapan
  2. Dan masih banyak lagi…
Website :
www.law.uph.ac.id


10. Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara


Ide untuk mendirikan suatu perguruan tinggi dicetuskan pertama kali pada tahun 1957 oleh sekelompok sosiawan di lingkungan Perhimpunan Sosial Candra Naya yang saat itu masih bernama Sin Ming Hui. Atas prakarsa Drs. Kwee Hwat Djien, pada tanggal 18 Juni 1959 kelompok ini sepakat untuk mendirikan suatu yayasan yang diberi nama Tarumanagara. Pembentukannya dikukuhkan melalui Akta Notaris E. Pondaag Nomor 54 Tanggal 11 September 1959.
Nama Tarumanagara sendiri diambil dari nama kerajaan yang pernah ada di tanah Sunda pada jaman dahulu. Di bawah pimpinan Raja Purnawarman, Kerajaan Tarumanagara pernah mencapai masa jayanya pada abad ke-VI. Kerajaan ini kemudian meninggalkan beberapa prasasti yang tersebar di berbagai lokasi di Jawa Barat dan Jakarta. Salah satu yang cukup terkenal adalah prasasti Ciaruteun yang terdapat di Bogor, tepatnya di pertemuan antara sungai Ciaruteun dan sungai Cisadane. ( sumber  http://www.tarumanagara.ac.id )

(Sumber:  http://replikduplik.wordpress.com/2011/11/09/10-fakultas-hukum-terbaik-di-indonesia/)